Pages

Kamis, 07 Juni 2012

TEORI BELAJAR KOGNITIF




.         Pengertian Belajar Menurut Teori Kognitif
Teori belajar kognitif, disini lebih mementingkan proses belajar dari pada hasil yang di peroleh oleh siswa. Belajar tidak dianggap sebagai perubahan tinkah laku karena belajar adalah merupakan peubahan presepsi dan pemahaman dari dalam diri siswa.
2.      Teori Perkembangan Piaget
Menurut piaget, perkembangan kognitif merupakan suatu proses genetic, yaitu suatu proses yang didasarkan atas mekanisme biologis perkembangan sistem syaraf. Yang dimaksud diatas adalah setiap seseorang yang mengalami bertambahnya umur maka semakin komplekslah susunan sel syarafnya dan semakin meningkat pula kemampuannya dalam belajar. Piaget menyimpulkan bahwa daya pikir atau kekuatan mental anak yang berbeda usia akan berbeda pula secara kualitatif.
Menurut piaget, proses belajar akan terjadi jika mengikuti tahap-tahap asimilasi, akomodasi, dan ekuilbrasi (penyeimbangan). Pengertian dari asimilasi adalah proses perubahan apa yang dipahami sesuai dengan unsur kognitif yang ada sekarang, sementara akomodasi adalah proses perubahan struktur kognitif sehingga dapat dipahami. Dengan kata lain, apabila individu menerima informasi atau pengalaman baru maka informasi tersebut akan dimodifikasi sehingga cocok denganstrktur kognitif yang telah dipunyainya. Sedangkan proses ekuilibrasi adalah penyesuaian berkesinambungan antara asimilasi dan akomodasi.
Piaget membagi perkembangan kognitif menjdi empat :
a.      Tahap sensorimotor (umur 0-2 tahun)
Pertumbuhan kemampuan anak tampak dari kegiatan motoriknya dan presepsinya yang sederhana. Ciri pokok perkembangannya berdasarkan tindakan, dn dilakukan langkah demi langkah. Kemampuan yang dimilikinya adalah :
-          Melihat dirinya sendiri sebagai makhluk yang berbeda dengan obyek yang lain.
-          Mencari rangsangan dari sinar lampu dan suara.
-          Suka memperhatikan sesuatu lebih lama.
-          Mendefinisikan sesuatu dengan memanipulasinya
-          Memperhatikan obyek sebagai hal yang tetap, lalu ingin merubah tempatnya.
b.      Tahap preoperasional (umur 2-7/8 tahun)
Ciri pokok perkembangan pada tahap ini adalah menggunakan simbol atau bahasa tanda dan mulai berkembannya konsep-konsep intuitif. Tahap ini dibagi menjadi dua, yaitu:
Preoperasional (umur 2-4 tahun), anak telah mampu menggunakan bahasa dalam mengembangkan konsepnya, walaupun masih sangat sederhana. Maka sering terjadi kesalahan dalam memahami obyek. Karakteristik dalam tahap ini adalah :
-          Self counter nya sangat menonjol.
-          Dapat mengkalrifikasikan obyek pada tingkat dasar secara tunggal dan mencolok.
-          Tidak mampu memusatkan perhatian pada obyek-obyek yang berbeda.
-          Mampu mengupulkan barang-barang menurut kriteria, termasuk kriteria yang benar.
-          Dapat menyusun benda-banda secara bederet, tetapi tidak dapat menjelaskan perbedaan antara deretan.
Tahap Intuitif (umur 4-7 atau 8 tahun), anak telah dapat memperoleh pengetahuan berdasarkan pada kesan yang agak abstraks. Dalam menarik kesimpulan sering tidak diungkapkan dengan kata-kata. Dalam hal ini anak dapat berkomunikasi dengan menggunakan obyek dimana anak tidak menyadarinya dan anak juga dapat melakukan sesuatu terhadap suatu ide. Ia juga mengerti terhadap sejumlah obyek yang teratur dan cara mengelompokkannya.
c.       Tahap operasional konkrit (umur 7 atau 8-11 atau 12 tahun).
Ciri pada perkembangan ini adalah anak sudah mulai menggunakan aturan-aturan yang jelas dan logis, dan ditandai adanya reversible dan kekekalan. Akan tetapi anak hanya dapat memiliki kecakapan logis dengan benda-benda yang konkrit. Untuk menhindari keterbatasan berfikir pada anak adalah dengan menggunakan gambaran yang kongkrit, sehingga anak mampu menelaah persoalan.
d.      Tahap operasional formal (umur 11/12-18 tahun)
Anak sudah dapat berfikir abstrak dan logis dengan menggunakan pola pikit “kemungkinan”. Model berpikir ilmiah dengan tipe hipothetico-deductive dan inductive sudah mulai dimiliki anak, dengan kemampuan menarik kesimpulan, menafsirkan dan mengembangkan hipotesa. Pada tahap ini  kondisi berfikir anak sudah dapat :
-          Bekerja secara efektif dan sistematis.
-          Menganalisis secara kombinasi.
3.      Teori Belajar Menurut Bruner
Dalam memandang proses belajar bruner menekankan adanya pengaruh kebudayaan terhadap tingkah laku seseorang. Free discovery learning adalah teori yang disebutkan bruner, ia mengatakan bahwa jika guru memberikan kesempatan kepada siswa untuk menemukan suatu konsep, teori, aturan, atau pemahaman yang ia jumpai di kehidupannya, maka ia akan menemukan proses belajar yang baik dan kreatif.
Perkembangan kongnitif seseoran melalui 3 tahapan yaitu:
-          Tahap enaktif, melakukan aktivitas yang menggunakan pengetahuan motorik. Misalnya dengan gigitan, sentuhan dll.
-          Tahap ikonik, memahami obyek-obyek dengan bentuk perumpamaan (tampil) dan perbandingan (komparasi).
-          Tahap simbolik, komunikasi yang dilakuakan adalah komunikasi yang menggunakan simbol, dimana siswa sangat dipengaruhi oleh simbol-simbol bahasa, logika, matematika, dan sebagainya.
4.      Teori Belajar Bermakana Ausubel
Pengetahuan diorganisai dalam ingatan seseorang dalam struktur hirarkhis. Ini berarti bahwa pengetahuan yang lebih umum, inklusif, dan abstrak membawahi pengetahuan yang lebih spesifik dan konkrit. Gagasan mengenai cara belajar dari umum ke khusus akan memudahkan siswa dalam belajar yang sering disebut dengan Subsumptive sequencemenjadikan belajar lebih bermakna bagi siswa. Advance organizers dikembangkan juga oleh Ausubel, Advance organizers cara ini memdahkan siswa untuk mempelajari materi yang baru, serta menghubungkannya dengan materi yang telah dipelajarinya.
Bedasarkan konsepsi dari Ausubelyang dikembangkan oleh para pakar teori kognitif dibentuk suatu model yang eksplisit yaitu disebut dengan skemata. Di mana pertama, skemata mempunyai fungsi untuk menggambarkan atau mempresentasikan organisasi pengetahuan. Kedua, adalah sebagai tempat untuk mengkaitkan atau mencantolkan pengetahuan baru.
5.      Aplikasi Teori Kognitif dalam Kegiatan Pembelajaran
Hakekat belajar menurut teori kognitif dijelaskan sebagai suatu aktifitas belajar yang berkaitan dengan penataan informasi, reorganisasi perseptual, dan proses internal. Ketiga tokoh memiliki pandangan yang sama mementingkan keterlibatan siswa secara aktif dalam belajar. Menurut Piaget, hanya dengan mengatifkan siswa secara optimal maka proses asimilasi dan akomodasi pengetahuan dan pengalaman dapat terjadi dengan baik. Sementara Bruner, lebih banyak memberikan kebebasan kepada siswa untuk belajar sendiri melalui aktivitas menemukan (discovery). Ausubel lebih mementingkan struktur disiplin ilmu. Proses belajar lebih menekankan pada cara berfikir deduktif.

0 komentar:

Poskan Komentar